Membeli Rumah Mulai Maret Bebas PPN? Ini Aturannya!

Diposting pada

Buat mendorong konsumsi serta penciptaan perumahan di zona properti, pemerintah resmi membagikan insentif ekstra. Insentif ini berbentuk PPN( Pajak Pertambahan Nilai) yang ditanggung oleh pemerintah sepanjang 6 bulan dari Maret- Agustus 2021.

Mekanisme pemberian insentif PPN dengan besaran:

– 100% ditanggung pemerintah atas rumah tapak ataupun rumah susun dengan harga jual paling mahal Rp 2 miliar

– 50% ditanggung pemerintah atas rumah tapak ataupun rumah susun dengan harga jual di atas Rp 2 miliyar hingga 5 miliyar.

” Berlaku sepanjang 6 bulan mulai 1 Maret 2021 hingga 31 Agustus 2021,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani, Senin( 1/ 3/ 2021).

Alibi penghapusan PPN buat pembelian rumah karna zona properti sangat terdampak pandemi, di sisi lain zona ini banyak meresap tenaga kerja serta banyak berkaitan dengan industri lain, sehingga perlu sokongan stimulus dari pemerintah.

Pertimbangan pemerintah memperhitungkan sepanjang 20 tahun terakhir kontribusi zona properti terhadap ekonomi terus bertambah pada 2000 sebesar 7, 8% jadi 13, 6% pada 2020. Tetapi, pada 2020 zona properti hadapi kontraksi jadi minus 2% apalagi zona konstruksi minus 3, 3%.

Di sisi lain pekerja zona properti terus bertambah semenjak 2000 hingga 2016, kemudian melandai sampai 9, 1 juta pekerja, tetapi turun jadi 8, 5 juta pada 2020.

Perihal ini diperparah dengan penjualan industri properti pada 2020 yang turun hingga 21%, akibat terbanyak dari penjualan rumah turun hingga 37%.

Turunnya zona properti berakibat pada zona konstruksi, yang banyak berkait dengan zona lain, paling tidak terdapat 174 industri terkait seperti baja, semen, cat, mebel, perlengkapan rumah tangga. Pula ada 350 tipe industri kecil terpaut semacam furnitur, kasur, mebel, perlengkapan dapur serta yang lain.

” Kita hendak mendesak zona yang terbawa- bawa di pandemi ini serta mempunyai jalinan kokoh ialah manufaktur serta properti,” kata Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers bersama, Senin( 1/ 3/ 2021).

Pajak Pertambahan Nilai( PPN) sepanjang ini dibebankan pada penjualan rumah dari pengembang properti ke penjual. PPN ialah pajak yang dikenakan atas tiap pertambahan nilai dari Benda/ Jasa Kena Pajak( BKP/ JKP) dalam peredarannya dari produsen ke konsumen.

PPN, dalam perihal ini PPN penjualan rumah, dibayarkan pembeli serta dipungut oleh penjual buat berikutnya disetorkan ke negeri.

Perlakuan PPN penjualan rumah cuma diberlakukan terhadap properti primary, dalam makna properti rumah yang dijual oleh pengembang ke konsumen di mana tadinya cuma rumah hingga Rp 250 juta yang leluasa PPN. Sedangkan, properti secondary, dalam makna dijual dari satu orang ke orang lain, tidak dikenakan PPN. Ada pula besarannya PPN Rumah ini menggapai 10%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *